JAKARTA – Tibet sangat jauh, jaraknya 20.000 Km dari Indonesia. Jarak itu sukses ditempuh Adet dan Rial, dua bikers Indonesia bermotor menuju Tibet-China.
Wajah lelah Rial Hamzah dan Adet Vriono berubah senyum semringah. Bagaimana tidak, di hadapan mereka terhampar jalur ikonik bermotor panorama snow mountain yang menjadi bagian dari Route 214 dan Route 318 di dataran tinggi Tibet.
Dua jalur yang dikenal sebagai salah satu route overland paling indah dan menantang di dunia ini sukses ditaklukkan dua bikers Indonesia bermotor tembus Tibet-China pada Minggu (17/05/26).
Dingin langsung mentergap karena mereka bermotor di dataran tinggi lebih dari 5.300 mdpl. Selain jalur pegunungan bersalju ini, selama perjalanan menuju Tibet, Tim Overlander Indonesia ini melewati berbagai titik ikonik seperti Jinghong, Shangri-La, Deqen dan Ranwu.
Riding bermotor dengan nama “Ride to The Roof of The World 20.000 KM” ini dimulai dari Bekasi tiga minggu sebelumnya. Motor spesial darena berplat B dan D ini dikirim ke Kuala Lumpur.
Dari Malaysia riding bermotor ini melintasi Thailand, Laos, hingga memasuki China melalui border Boten – Mohan sebelum akhirnya mencapai dataran tinggi Tibet melalui jalur legendaris Route G214 dan G318.

Beragam cerita touring mereka dapatkan. Mulai dari suhu panas hampir 40 derajat di Highway Malaysia dan Thailand, jalan berlumpur dan berdebu di Laos, hingga suhu minus dan badai salju di dataran tinggi Tibet.
Setelah menempuh perjalanan lintas negara selama tiga minggu lebih, tim ekspedisi “Ride to The Roof of The World” asal Indonesia resmi tiba di Lhasa, ibukota Daerah Otonomi Khusus, Tibet, China, pada 17 Mei 2026.
Ekspedisi ini bukan sekadar perjalanan touring biasa, tetapi sebuah misi overland lintas negara yang menguji ketahanan fisik, mental, serta performa kendaraan di berbagai kondisi ekstrem.
Adet mengatakan, untuk dapat memasuki China dan Tibet menggunakan kendaraan Indonesia, harus melalui proses birokrasi yang sangat ketat, kompleks, dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Mulai dari izin kendaraan, temporary driving permit, pengawalan, hingga berbagai administrasi lintas negara yang harus dipenuhi secara detail. “Khusus untuk daerah otonomi Tibet, persyaratan sangat susah dan mahal,” tutur Adet Vriono yang merupakan salah satu pengurus GSrek Indonesia Jakarta Chapter.
Karena itu, dalam perjalanan ini, Rial Hamzah dan Adet Vriono beriringan bersama 11 riders dari Malaysia yang dipimpin Rosmadi Saad, dalam satu group expedition untuk memasuki China dan Tibet secara resmi.
Kolaborasi ini bukan hanya mempermudah proses administrasi, tetapi juga menghadirkan semangat persaudaraan sesama Serumpun dalam menghadapi tantangan jalur overland menuju atap dunia.

Di tengah cuaca ekstrem, jalur panjang, serta kondisi alam yang tidak bisa diprediksi, para riders dari Malaysia juga menunjukkan semangat petualangan dan solidaritas yang luar biasa sepanjang perjalanan.
Keberhasilan ekspedisi ini sampai di Lhasa, Tibet, juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi touring dan overland Indonesia ke level internasional.
Karena sepanjang Jalan banyak bertemu bikers yang akhirnya tertarik untuk datang ke Indonesia dan memajukan Pariwisata indonesia dalam hal Touring bermotor
Rial Hamzah yang juga pengurus Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bidang Touring dan Komunitas berharap perjalanan ini dapat menjadi inspirasi sekaligus membuka peluang lebih besar bagi dunia touring Indonesia untuk semakin dikenal di jalur-jalur overland dunia.
Ekspedisi “Ride to The Roof of The World” sendiri mendapat dukungan resmi dari Ikatan Motor Indonesia sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan otomotif dan overland Indonesia di tingkat internasional.
Support IMI sebagai perwakilan negara dalam bidang otomotif menjadi salah satu faktor penting dalam kelancaran koordinasi, administrasi, serta keberlangsungan perjalanan lintas negara ini.
Atas keberhasilan riding spesial ini, keduanya tak lupa akan dukungan sponsor utama ekspedisi yakni 7Gear Motoequipment dan Coriaz Motoadventure. Serta dukungan Syndicate Motor Indonesia, Expedition Watch, Maxdecal, Liqui Moly dan Elig.

Kunci keberhasilan perjalanan hingga ke titik ini juga berkat persiapan matang. Seluruh dukungan tersebut terbukti berperan besar dalam menjaga performa kendaraan dan kenyamanan rider selama perjalanan ribuan kilometer menuju Tibet.
Hingga tiba di Lhasa, seluruh motor tetap berada dalam kondisi prima tanpa mengalami kerusakan ataupun perbaikan besar.
Tibanya tim di Lhasa bukan menjadi akhir perjalanan, melainkan sebuah simbol bahwa mimpi besar dapat dicapai melalui persiapan, ketekunan, dan keberanian untuk terus melangkah melewati batas.
Touring dua bikers Indonesia bermotor menuju Tibet-China ini bukan hanya tentang mencapai Tibet, tetapi tentang membawa semangat overland Indonesia melintasi batas negara. Keduanya menunjukkan bahwa rider Indonesia mampu berdiri di jalur-jalur tertinggi dunia. {PO/Mir}

