AMMDes Kendaraan Multifungsi Andalan Masyarakat Pedesaan

TANGERANG – Komitmen pemerintah dalam mendorong pemanfaatan dan pengembangan Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes) terus menjadi fokus pemerintah dalam upaya meningkatkan perekonomian masyarakat desa.

Sejak diluncurkan di ajang Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) 2018, AMMDes yang diproduksi massal oleh PT Kreasi Mandiri Wintor Indonesia (KMWI) memiliki kapasitas produksi sebanyak 3000 unit per tahun dan PT KMWI akan terus meningkatkan kapasitas produksi hingga menjadi 12 ribu unit per tahun di tahun 2020.

“AMMDes merupakan salah satu produk modernisasi upaya meningkatkan perekonomian masyarakat pedesaan, diharapkan alat multifungsi ini dapat meningkatkan produktivitas sehingga dapat juga membawa kesejahteraan masyarakat,” ungkap Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten, Senin (15/4).

Ditambahkan oleh Airlangga kebutuhaan masyarakat di pedesaan akan AMMDes telah melalui berbagai tahap pengembangan dan uji coba, “Kami mendorong upaya membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah dan desa yang diwujudkan melalui pendekatan untuk mengatasi ketimpangan dan mengembangkan potensi yang ada di pedesaan.”

“Komponen lokal AMMDes sudah lebih dari 70 persen, untuk muatan penuhnya bisa mencapai 700 kg dan variasi kemiringan 20 hingga 30 derajat. AMMDes dilahirkan karena melihat infrastruktur atau jalan desa, sehingga dapat dimanfaatkan di jalan yang sangat ekstrim,” paparnya.

Di samping terbukti mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, AMMDes juga telah diminati oleh negara-negara lain. Hal ini ditandai dengan penandatangan Letter of Intent antara PT. Kreasi Mandiri Wintor Distributor sebagai perusahaan distribusi AMMDes-KMW dengan PT. Repindo Jagad Raya tentang rencana ekspor 10 ribu unit AMMDes dalam hingga 2023 ke 49 dan beberapa negara di Asia Tenggara.

Pada kegiatan The 2nd AMMDes Summit juga dilakukan serah terima AMMDes Ambulance Feeder sebanyak dua unit dari PT. KMWI kepada United States Agency for International Development (USAID) untuk kebutuhan pelayanan kesehatan di wilayah Legok, Banten. Fungsi ini diyakini akan mengurangi jumlah kematian ibu melahirkan di daerah tersebut.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Harjanto menjelaskan bahwa, AMMDes mempunyai model dasar yang dilengkapi dengan flat deck dan fitur power take off (PTO). “ Mesin diesel yang digunakan pada model ini telah mengalami penyesuaian untuk mendapatkan performa yang lebih baik di medan off road dan berbukit,” ujarnya.

Model ini juga mengaplikasikan sistem penggerak tunggal yang dirancang dengan kecepatan maksimal 30 km per jam dan kapasitas silinder sebesar 650 cc atau setara dengan 14 HP.

Selain itu, model ini dilengkapi dengan differential lock sebagai fitur pengunci roda belakang sehingga dapat bergerak secara bersamaan untuk menambah traksi saat melintasi jalan yang buruk. AMMDes dikembangkan dengan dilengkapi alat pengolah air jernih dan air minum.

Fungsi AMMDes ini sudah dimanfaatkan di tiga wilayah yang terkena dampak gempa di Provinsi Sulawesi Tengah, beberapa waktu lalu, yakni di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala melalui bantuan lima unit dari Kemenperin.

“Saat ini, AMMDes telah diproduksi massal dengan pengembangan aplikasi untuk pertanian, perkebunan, perikanan, kesehatan, dan tanggap darurat bencana,” imbuhnya.

Bagi masyarakat desa atau dalam kondisi darurat bencana, kebutuhan air bersih dan air minum sangat penting untuk mendukung berbagai aktivitas. “Kebutuhan air bersih dan air minum memang sangat penting, karena selain digunakan untuk memasak dan lainnya, air yang dihasilkan oleh AMMDes juga langsung diminum dan telah mendapatkan sertifikat layak minum dari dinas kesehatan,” ungkap Harjanto.

“Bahkan, saat ini telah dikembangkan AMMDes yang dilengkapi dengan unit ice flake atau pembuat es serpihan yang cocok untuk nelayan,” tuturnya.

Oleh karena itu, Kemenperin terus mendorong pengembangan AMMDes sebagai salah satu karya anak bangsa yang perlu diapresiasi karena wujud kemandirian industri nasional. [Po/Byu]